Read more : http://www.wakrizki.net/2011/03/membuat-effek-zoom-gambar-di-blog.html#ixzz1PJMAYpiS

Routing RIP di Linux Debian

RIP (ROUTING INFORMATION PROTOCOL)



Routing Information Protocol atau yang dikenal RIP adalah dinamik routing protokol yang sudah cukup tua. Di ciptakan sekitar tahun 1970.
Cara kerjanya berdasarkan Distance Vector Routing Protocol, yang berarti akan mempergunakan pendekatan berapa banyak hop (lompatan) router yang akan ditempuh untuk mencapai suatu network. Dan yang akan dipilih adalah hop terpendek.
Cara Kerja




RIP bekerja dengan menginformasikan status network yang dipegang secara langsung kepada router tetangganya.

Karakteristik dari RIP:

* Distance vector routing protocol
* Hop count sebagi metric untuk memilih rute
* Maximum hop count 15, hop ke 16 dianggap unreachable
* Secara default routing update 30 detik sekali
* RIPv1 (classfull routing protocol) tidak mengirimkan subnet mask pada update
* RIPv2 (classless routing protocol) mengirimkan subnet mask pada update



Satu hal yang perlu diperhatikan adalah RIP zebra secara default mempergunakan versi 2, sedangkan Cisco versi 1.
Konfigurasi

Sama halnya dengan zebra, daemon rip dapat dikonfigur lewat 2 cara.

Konfigurasi dengan 2 cara :

1. edit langsung pada file ripd.conf

root@opera zebra# vi ripd.conf
root@opera zebra# service ripd restart

2. melalui remote vty
telnet ke port 2602

root@opera zebra# telnet 127.0.0.1 2602
Hello, this is zebra (version 0.94).
Copyright 1996-2002 Kunihiro Ishiguro.

Konfigurasi RIP sangat sederhana, secara umum hanya membutuhkan 3 entri dalam running configurasi.
Masukkan network mempunyai router tetangga RIP dan network yang akan disebarkan ke router tetangga.

ripd(config)# router rip
ripd(config-router)# network 192.168.1.0/24
ripd(config-router)# network 10.1.1.0/24
ripd(config-router)# ^z
ripd#

Untuk memeriksa status RIP

ripd# show ip protocols
Routing Protocol is "rip"
Sending updates every 30 seconds with +/-50%, next due in 7 seconds
Timeout after 180 seconds, garbage collect after 120 seconds
Outgoing update filter list for all interface is not set
Incoming update filter list for all interface is not set
Default redistribution metric is 1
Redistributing:
Default version control: send version 2, receive version 2
Interface Send Recv Key-chain
Routing for Networks:
10.1.1.0/24
192.168.1.0/24
Routing Information Sources:
Gateway BadPackets BadRoutes Distance Last Update
Distance: (default is 120)

Untuk melihat routing yang didapat dari RIP tetangga.

ripd# show ip rip
Codes: R - RIP, C - connected, O - OSPF, B - BGP
(n) - normal, (s) - static, (d) - default, (r) - redistribute,
(i) - interface

Network Next Hop Metric From Time

Jangan lupa untuk menyimpan konfigurasi kedalam file.

ripd# write memory
Configuration saved to /etc/zebra/ripd.conf

Lanjut membaca“Routing RIP di Linux Debian”  »»

Beckham Tak Masuk Tim MLS XI


David Beckham memang ikut membantu LA Galaxy menembus laga puncak kompetisi Liga Amerika Serikat alias Major League Soccer (MLS), tapi dia tidak masuk ke dalam tim terpilih 2009.

Beckham, yang kembali ke Galaxy setelah membela AC Milan di paruh kedua musim lalu, tetap menjadi pemain andalan tim tersebut untuk lolos ke partai pamungkas MLS Cup tahun ini, untuk memperebutkan titel juara melawan Real Salt Lake pada 22 November. Meski begitu ia dinilai tidak cukup syarat untuk masuk tim MLS XI 2009.



Dari Galaxy hanya ada satu pemain yakni kapten timnas AS, Landon Donovan. Ia bergabung dengan empat gelandang lain yaitu Dwayne De Rosario (Toronto FC), Stuart Honden (Houston Dynamo), Shalrie Joseph (New England Revolution), dan Freddie Ljungberg (Seattle Sounders FC). De Rosario dan Joseph adalah yang paling sering jadi langganan, mereka terpilih sudah empat kali.

Pemain Chivas USA, Zach Thornton, dinobatkan sebagai kiper terbaik. Pemain berusia 36 tahun ini menyita perhatian karena telah kembali ke lapangan setelah absen selama satu dekade. Penampilannya yang cemerlang juga telah memberinya penghargaan comeback player of the year.

Tiga bek terpilih adalah Chad Marshall (Columbus Crew), Geoff Cameron (Houston Dynamo), dan Wilman Conde (Chicago Fire). Adapun dua top skorer lia, Jeff Cunningham (FC Dallas) dan Conor Casey (Colorado Rapids), adalah dua penyerang terbaik tim pilihan tersebut.


MLS Best XI 2009:

Kiper: Zach Thornton (Chivas USA)

Bek: Geoff Cameron (Houston Dynamo), Wilman Conde (Chicago Fire), Chad Marshall (Columbus Crew)

Gelandang: Dwayne De Rosario (Toronto FC), Landon Donovan (Los Angeles Galaxy), Stuart Holden (Houston Dynamo), Shalrie Joseph (New England Revolution), Freddie Ljungberg (Seattle Sounders FC)

Penyerang: Conor Casey (Colorado Rapids), Jeff Cunningham (FC Dallas)
( a2s / arp )


Lanjut membaca“Beckham Tak Masuk Tim MLS XI”  »»

Petani Roma Demo



Ribuan petani lokal dari sejumlah daerah di Italia berunjuk rasa di depan Balisika Santo Petrus, Roma, Senin (16/11) waktu setempat. Massa menuntut dukungan yang lebih besar untuk meningkatkan sektor pertanian di Eropa.

Selain membawa spanduk, tak sedikit petani yang datang dengan mengendarai traktor. Mereka juga menggelar aksi teatrikal dan memainkan peran pemilik perusahaan yang kerap bertindak tidak adil kepada para petani.

Sementara di dalam gedung Balisika Santo Petrus tengah diadakan pertemuan tingkat tinggi organisasi pangan dan pertanian dunia (FAO). Peserta pertemuan mendeklarasikan peningkatan bantuan bagi negara-negara berkembang. Dengan demikian, satu miliar penduduk bumi yang kelaparan bisa berkurang.




Lanjut membaca“Petani Roma Demo”  »»

Boediono Yakin Indonesia akan Menjadi Negara Maju di 20tahun Mendatang


Wakil Presiden Boediono berkeyakinan, Indonesia akan menjadi salah satu negara dengan ekonomi maju di dunia dalam 20 tahun mendatang. Hal itu disampaikan oleh Boediono dalam diskusi bersama kaum muda se-Asia di SCTV Tower, Senayan City, Jakarta, Sabtu (31/10).

"Saat ini, Indonesia sudah mengalami banyak kemajuan. Salah satunya di bidang ekonomi. Jika kebutuhan dasar seseorang sudah terpenuhi, maka kebutuhannya akan meningkat," jelas Boediono. "Dan ciri-ciri itu sudah terlihat di sebagian masyarakat Indonesia."

Begitu juga di bidang hukum, kata Boediono, karena sudah banyak kasus korupsi yang ditindaklanjuti. "Untuk itu, kewajiban generasi muda sekarang dan seterusnya adalah menjaga hal tersebut," tambahnya.



Lanjut membaca“Boediono Yakin Indonesia akan Menjadi Negara Maju di 20tahun Mendatang”  »»

RIP V2 Ubuntu Dynamic Routing dengan Quagga

Selain dengan router sebenarnya (misal Cisco) kita dapat juga melakukan routing dinamic (misal dengan protocol RIP V2) pada Linux. Requirementnya adalah:

1. OS Linux (Quagga)
2. 2 PC dengan 2 NIC.
3. Kabel cross.

Lihat topologi dibawah ini:

Cara konfigurasi:


Pada Server 1 yang konek ke ISP:

1.install quagga–>popi@ubuntuserver:~$ sudo apt-get install quagga

2.aktifkan daemon untuk zebra dan ripd

popi@ubuntuserver:~$ sudo vi /etc/quagga/daemons

zebra=yes

bgpd=no

ospfd=no

ospf6d=no

ripd=yes

ripngd=no

3.restart–>popi@ubuntuserver:~$ sudo /etc/init.d/quagga restart

4.cek daemonnya sudah ada belum –>popi@ubuntuserver:~$ ps -ef | grep quagga

5.buat config file.copy file zebra (untuk interface) dan ripd (untuk routing RIP)

popi@ubuntuserver:~$ sudo cp /usr/share/doc/quagga/examples/zebra.conf.sample /etc/quagga/zebra.conf

popi@ubuntuserver:~$ sudo cp /usr/share/doc/quagga/examples/ripd.conf.sample /etc/quagga/ripd.conf

6.berikan user dan group ownership pada quagga and quaggavty

popi@ubuntuserver:~$ sudo chown quagga.quaggavty /etc/quagga/*.conf

popi@ubuntuserver:~$ sudo chmod 640 /etc/quagga/*.conf

7.restart

popi@ubuntuserver:~$ sudo /etc/init.d/quagga restart

8.configurasi file zebra.conf untuk config interface (password =zebra)

popi@ubuntuserver:~$ telnet localhost 2601

9.buat configurasi seperti ini di global config:

interface eth0

ip address 11.0.0.1/8

ipv6 nd suppress-ra

!

interface eth1

ip address 202.93.236.85/26

10.jangan lupa untuk menyimpan kedalam memory (perintah write)

11.configurasi file ripd.conf untuk routing (password = zebra)

popi@ubuntuserver:~$ telnet localhost 2602

12.buat configurasi seperti ini di global config:

router rip

version 2

network 11.0.0.0/8

network 202.93.236.0/26

13.restart

popi@ubuntuserver2:~$ sudo /etc/init.d/quagga restart

Pada Server 2 yang konek ke LAN:

1.Install quagga–>popi@ubuntuserver2:~$ sudo apt-get install quagga

2.aktifkan daemon untuk zebra dan ripd

popi@ubuntuserver2:~$ sudo vi /etc/quagga/daemons

zebra=yes

bgpd=no

ospfd=no

ospf6d=no

ripd=yes

ripngd=no

3.restart–>popi@ubuntuserver2:~$ sudo /etc/init.d/quagga restart

cek daemonnya sudah ada belum –>popi@ubuntuserver2:~$ ps -ef | grep quagga

4.buat config file.copy file zebra (untuk interface) dan ripd (untuk routing RIP)

popi@ubuntuserver2:~$ sudo /usr/share/doc/quagga/examples/zebra.conf.sample /etc/quagga/zebra.conf

popi@ubuntuserver2:~$ sudo /usr/share/doc/quagga/examples/ripd.conf.sample /etc/quagga/ripd.conf

5.berikan user dan group ownership pada quagga and quaggavty

popi@ubuntuserver2:~$ sudo chown quagga.quaggavty /etc/quagga/*.conf

popi@ubuntuserver2:~$ sudo chmod 640 /etc/quagga/*.conf

6.restart

popi@ubuntuserver2:~$ sudo /etc/init.d/quagga restart

7.configurasi file zebra.conf untuk config interface (password =zebra)

popi@popi@ubuntuserver2:~$ telnet localhost 2601

8.buat configurasi seperti ini di global config:

interface eth0

ip address 11.0.0.10/8

ipv6 nd suppress-ra

!

interface eth1

ip address 12.0.0.1/8

9.jangan lupa untuk menyimpan kedalam memory (perintah write)

10.configurasi file ripd.conf untuk routing (password = zebra)

popi@popi@ubuntuserver2:~$ telnet localhost 2602

11.buat configurasi seperti ini di global config:

router rip

version 2

network 11.0.0.0/8

network 12.0.0.0/8

12.restart

popi@ubuntuserver2:~$ sudo /etc/init.d/quagga restart

Cara mengecek RIP nya sudah jalan (jalankan perintah sh ip route pada router zebra):

popi@popi@ubuntuserver2:~$ telnet localhost 2601

Router# sh ip ro

Router# sh ip route

Codes: K – kernel route, C – connected, S – static, R – RIP, O – OSPF,

I – ISIS, B – BGP, > – selected route, * – FIB route

K>* 0.0.0.0/0 via 202.93.236.65, eth1

C>* 11.0.0.0/8 is directly connected, eth0

R>* 12.0.0.0/8 [120/2] via 11.0.0.10, eth0, 00:35:30

C>* 127.0.0.0/8 is directly connected, lo

C>* 202.93.236.64/26 is directly connected, eth1

Hasil ping dari Server1 ke Interface dibelakang Server 2 (ip 11.0.0.10 dan 12.0.0.1)

popi@ubuntuserver:~$ ping 11.0.0.10

PING 11.0.0.10 (11.0.0.10) 56(84) bytes of data.

64 bytes from 11.0.0.10: icmp_seq=1 ttl=64 time=0.139 ms

64 bytes from 11.0.0.10: icmp_seq=2 ttl=64 time=0.138 ms

64 bytes from 11.0.0.10: icmp_seq=3 ttl=64 time=0.146 ms

64 bytes from 11.0.0.10: icmp_seq=4 ttl=64 time=0.151 ms

64 bytes from 11.0.0.10: icmp_seq=5 ttl=64 time=0.150 ms

^C

— 11.0.0.10 ping statistics —

5 packets transmitted, 5 received, 0% packet loss, time 3996ms

rtt min/avg/max/mdev = 0.138/0.144/0.151/0.016 ms

popi@ubuntuserver:~$ ping 12.0.0.1

PING 12.0.0.1 (12.0.0.1) 56(84) bytes of data.

64 bytes from 12.0.0.1: icmp_seq=1 ttl=64 time=0.155 ms

64 bytes from 12.0.0.1: icmp_seq=2 ttl=64 time=0.124 ms

64 bytes from 12.0.0.1: icmp_seq=3 ttl=64 time=0.145 ms

Lanjut membaca“RIP V2 Ubuntu Dynamic Routing dengan Quagga”  »»